
“
Di Depan Kelamboe Terboeka ”
86
cm x 66 cm
Oil
on canvas
Tahun
1939

Lukisan ini apabila dilihat
menggunakan dominasi warna monokromatis dan cenderung gelap yang telah tergambar
pada warna background dan bawahan baju orang tersebut pakai yaitu warna hitam
dan sedikit warna coklat selain itu juga dapat dilihat dari warna kelambu yang
putih keabu-abuan. Selain warna yang mendominasi juga dalam lukisan tersebut
mengandung unsur garis yang dapat dilihat dari kontur kursi dan objek manusia
yang ada pada lukisan tersebut serta penggambaran seseorang yang sedang duduk
pada kursi berwarna coklat dan cream digambarkan lebih jelas daripada
background pada lukisan untuk menonjolkan subject matter lukisan. Garis yang
ada dibelakang orang tersebut yang seperti motif sulur-suluran serta dapat
dilihat juga tekstur yang ada pada lukisan “di depan kelambu terbuka “ bahwa
tekstur tersebut terlihat ekspresif pada bagian kelambu, background dan raut
muka orang yang ada pada lukisan. Lukisan ini memiliki value pewarnaan yang
berbeda antara bagian bawah dan bagian atas lukisan, bagian bawah cenderung
lebih gelap dibangdingkan bagian atas lukisan yang terang namun tetap terlihat
seimbang. Sentuhan warna orange pada kain jarit memberikan kesan keseimbangan
pada warna hitam kain jarit. Meskipun pada bagian atas lukisan valuenya lebih
terang daripada bagian bawah lukisan, tetapi pada bagian atas diberikan sedikit
warna merah kusam untuk dapat menyeimbangkan komposisi lukisan. Pada sisi
bagian kiri atas lukisan terdapat gambar sulur-suluran berwarna hitam serta
gambar bunga berwarna merah dengan daun hitam untuk mengisi kekosongan lukisan
bagian kiri.
Lukisan
yang berjudul ‘Di Depan Kelamboe Terboeka’ ini dipamerkan pada saat pameran di
Bataviasche Kunstkring. Lukisan ini menampilkan sosok wanita yang sedang duduk
dikursi. Biarpun tubuh itu dilukiskan tenang, tetapi tidak demikian jiwanya. Terlihat
pada penggambaran mata yang menatap dengan tatapan yang tajam, seakan
menyiratkan tentang berbagai hal yang ingin diungkapkan. Gelora kehidupan yang
kalut pada masyarakat, berkobar dalam roman mukanya. Mata yang dilukisan itu
bagai buku penghidupan bagi mereka yang membacanya. Wajah pucat, mata hitam,
dan mulutnya yang terkatup, adalah perpaduan antara kesedihan, celaan,
pertanyaan, dan mungkin kebencian. Goresannya bebas dan imajinatif, sedangkan
warnanya kuat tetapi halus dan tidak menggunakan warna-warna yang mencolok.
Secara keseluruhan lukisan itu mengekspresikan perasaan kemanusiaan yang dalam.
Seniman S. Sudjojono merupakan seniman yang tergabung dalam PERSAGI (Persatuan
Ahli Gambar Indonesia), yaitu perkumpulan pertama di Jakarta yang berupaya mencerminkan
kepribadian Indonesia yang sebenarnya. Karya-karya yang dihasilkan mencerminkan
tentang tema perjuangan rakyat, mementingkan nilai-nilai psikologis, tidak
terikat kepada obyek alam yang nyata, memiliki kepribadian Indonesia, serta
didasari oleh semangat dan keberanian.
Pemilihan
warna yang pucat dan tidak mencolok, melambangkan suasana atau keadaan kelam
yang menyilimuti hatinya. Posisi duduk yang tenang dengan tangan kanan yang
diletakkan diatas kursi, seakan-akan berada pada posisi yang santai tetapi
serius. Seorang wanita yang ada pada lukisannya itu ternyata istri dari
sudjojono yang bernama Mia Bustam. Beliau adalah istri pertama dari S.Sudjojono
yang terkhianati cintanya oleh
S.Sudjojono karena Sudjojono telah mencintai wanita lain yaitu Rosalina
Poppeck seorang sekretaris dan penyanyi
selama beberapa tahun, yang kemudian dinikahinya sekaligus mengganti nama istri
barunya menjadi Rose Pandanwangi. Lukisan ini
menggambarkan tentang jiwa ketok tentang seseorang yang
duduk di bawah kelambu tapi tak ada cantik-cantiknya dalam artian seorang
wanita yang tampil apa adanya tanpa riasan untuk mempercantik wajahnya, ia
menunggu suaminya yaitu Sodjojono yang telah bersamanya dalam waktu lama hingga
akhirnya mereka mempunyai delapan anak. Namun penantian Ibu Mia Bustam terhadap
suaminya hanyalah sia-sia karena sang suami yaitu Sudjojono tidak akan kembali
lagi bersama Ibu Mia Bustam meskipun kelambunya tetap terbuka karena Sudjojono
telah menikah lagi dengan wanita lain dan Ibu Mia Bustampun akhirnya diceraikan.
Wajah yang pucat, tatapan tajam serta mulut yang terkatup menyiratkan
kekecewaan, kesedihan,
celaan, pertanyaan, dan kebencian.
Lukisan Sudjojono yang berjudul ‘Depan Kelamboe
Terboeka’ dapat menggambarkan realita kehidupannya dan maknanya dapat ditangkap
oleh orang yang melihatnya. Lukisan ini juga mampu menyampaikan pesan yang
ingin diungkapkan oleh seniman kepada penonton atau publik. Selain itu lukisan
ini juga memiliki ciri khas goresan yang
berbeda dengan seniman lain yaitu ekspresif namun dengan goresan ekspresifnya
seniman mampu menampilkan suasana yang terjadi pada lukisan tersebut seperti
suasana kelam karena kesedihan, kekecewaan, celaan, pertanyaan dan kebencian
yang ditampilkan dalam lukisan yang berjudul ‘Di Depan Kelamboe Terboeka’. Kombinasi
warna cenderung pucat dan keseimbangan lukisan ini sudah bagus.
f5288 - Videosl - Videosl - Cviv | Videoodl.cc
BalasHapusf5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. f5288. youtube mp4 f5288. f5288.